Sony SAL DT Lens System
Sony SAL DT adalah varian lensa Sony yang secara khusus diperuntukkan bagi penggunaan bersama kamera Sony Alpha dengan dimensi fisik sensor APS-C (24 x 16 mm). DT adalah kependekan dari Digital Technology.
Secara otomatis, sensor digital berukuran APS-C memiliki faktor konversi atau perkalian panjang fokal lensa yang terpasang sebesar 1.5x, dikarenakan ukuran sensor tersebut yang lebih kecil dari standar fotografi yang selama ini kita kenal, yaitu standar 35mm dengan ukuran sensor Full Frame 36 x 24 mm. Misalnya Anda sedang menggunakan lensa 100mm di Sony Alpha dengan sensor APS-C, sebenarnya ini bukanlah berarti lensa 100mm Anda tersebut menjadi lensa 150mm dalam arti optis yang sesungguhnya (karena 100mm x 1.5 = 150mm). Maksudnya adalah cakupan sudut pandang lensa 100mm tersebut yang aslinya 24°, berkurang seolah-olah menjadi seperti lensa 150mm yang cakupan sudut pandangnya 16°. Jadi, lensa 100mm tersebut tetaplah lensa 100mm secara fisika optik. Lensa tersebut menjadi seperti lensa 150mm secara visual, karena adanya faktor pemotongan bidang gambar (krop) atau faktor pengali yang timbul akibat dari ukuran sensor APS-C tersebut.
Ketika Anda menggunakan lensa tele, faktor pengali tersebut jadi menguntungkan. Ketika misalnya Anda menggunakan lensa Sony SAL 300mm f/2.8 G SSM di Sony Alpha dengan sensor APS-C, maka cakupan ruang pandang lensa tersebut akan otomatis terkonversi menjadi seolah-olah (300mm x 1.5 =) 450mm, dengan bukaan diafragma maksimal yang tetap di f/2.8. Sayangnya, walaupun lensa tele diuntungkan dengan konversi ini, namun tidak demikian halnya dengan lensa sudut lebar. Konversi ini lebih terasa tidak menguntungkan di penggunaan lensa sudut lebar. Misalnya Anda menggunakan lensa 20mm di Sony Alpha dengan sensor APS-C, maka terjadi konversi cakupan sudut pandang yang setara dengan lensa (20mm x 1.5 =) 30mm. Kesimpulannya, lensa tele terasa lebih panjang dari aslinya, sementara lensa sudut lebar akan menjadi tidak selebar aslinya.
Oleh sebab itu, Sony harus "memundurkan" panjang fokal lensa sudut lebar yang selama ini sudah ada di pasaran, hingga pada suatu nilai dimana ketika lensa tersebut menghadapi konversi panjang fokal sebanyak 1.5x pun, akan tetap memiliki cakupan sudut pandang yang tetap lebar. Kendalanya, ketika lensa-lensa dengan lingkar cahaya untuk sensor Full Frame 36 x 24 mm "dimundurkan" panjang fokalnya, maka proses riset dan fabrikasi lensa akan berjalan lebih sulit. Fisik lensa akan jauh membesar, terjadi pertambahan cacat optik yang harus dikoreksi, yang pada akhirnya membuat lensa tersebut menjadi sangat mahal.
Contohnya adalah lensa Carl Zeiss Vario-Sonnar T* 16-35mm f/2.8 SSM ZA, yang merupakan lensa zoom terlebar dengan lingkar cahaya sensor Full Frame 36 x 24 mm. Ketika lensa tersebut dipasangkan pada Sony Alpha dengan dimensi sensor APS-C, maka cakupan sudut pandangnya akan setara dengan lensa 24-52mm akibat konversi 1.5x. Lensa tersebut akan kehilangan kekuatan yang sesungguhnya sebagai lensa sudut ultra-lebar. Dengan demikian, alangkah baiknya jika angka 16mm tersebut dapat "dimundurkan" hingga angka 11mm, misalnya; sehingga jika 11mm x 1.5 pun masih akan menghasilkan cakupan sudut pandang yang setara dengan lensa 16mm di standar sensor Full Frame 36 x 24 mm.
Untuk dapat memundurkan panjang fokal lensa tersebut tanpa menambah besar fisik lensa, tanpa meningkatkan potensi cacat optik, dan tanpa membengkakkan harga jualnya; maka lingkar cahaya lensa tersebut harus dikurangi. Faktanya, lensa tersebut pasti akan dipergunakan pada Sony Alpha dengan sensor APS-C. Dengan demikian, lingkar cahaya lensa tersebut bisa dikurangi hingga seukuran sensor APS-C. Itulah asal-mula lensa Sony SAL DT.
Mari kita lihat faktanya. Mayoritas lensa Sony SAL DT merupakan lensa dari kelompok sudut lebar atau zoom standar yang "mengandung" panjang fokal sudut lebar. Ini terjadi karena lensa yang paling "menderita" akibat konversi 1.5x dari sensor APS-C adalah lensa sudut lebar. Lensa dengan sudut pandang terlebar di keluarga lensa Sony SAL DT adalah Sony SAL DT 11-18mm f/4.5-5.6. Ketika lensa ini dipasangkan ke Sony Alpha dengan sensor APS-C, cakupan sudut pandangnya menjadi setara dengan lensa 16-27mm di standar Full Frame 35mm. Jika Anda perhatikan, cakupan sudut pandangnya menjadi setara dengan lensa Carl Zeiss Vario-Sonnar T* 16-35mm f/2.8 SSM ZA yang dipasangkan di Sony Alpha dengan sensor Full Frame 36 x 24 mm (di sudut terlebarnya). Perbedaan terbesar diantara kedua lensa tersebut (selain panjang fokalnya) adalah lingkar cahayanya. Oleh sebab itu diciptakanlah kode lensa Sony SAL DT untuk membedakan kelompok lensa Sony yang telah mengalami reduksi lingkar cahaya dan "pemunduran" panjang fokal.
Dengan lingkar cahaya yang lebih kecil, lensa Sony SAL DT dapat dibuat lebih ringkas daripada yang seharusnya. Buktinya, lensa Sony SAL DT 11-18mm f/4.5-5.6 memiliki diameter ring filter 77mm, sama dengan Carl Zeiss Vario-Sonnar T* 16-35mm f/2.8 SSM ZA; betapapun panjang fokal terpendeknya berbeda. Terbayangkah Anda betapa besar dan mahalnya lensa 11mm dengan lingkar cahaya untuk sensor Full Frame 36 x 24 mm, jika lensa 11mm dengan lingkar cahaya APS-C saja sudah harus "memanggul" diameter ring filter sebesar 77mm?
Jika dilihat dari dudukan lensa atau bayonetnya, lensa Sony SAL DT dapat dipasangkan ke Sony Alpha bersensor Full Frame 36 x 24 mm. Namun oleh karena lingkar cahaya lensa Sony SAL DT yang lebih kecil daripada ukuran sensor Full Frame 36 x 24 mm, maka akan terjadi penurunan tingkat pencahayaan (penggelapan) di sudut-sudut hasil foto, yang disebut juga dengan vigneting. Semakin pendek panjang fokal lensa Sony SAL DT yang dipasangkan, maka tingkat vigneting-nya akan semakin intens. Oleh sebab itu (walaupun tidak direkomendasikan), jika Anda "terpaksa" memasangkan lensa Sony SAL DT di Sony Alpha dengan sensor Full Frame 36 x 24 mm (misalnya Sony DSLR-A900), di Menu tersedia aktivasi fasilitas "APS-C Capture", dimana kamera akan secara otomatis me-non-aktif-kan sejumlah pixel di sudut-sudut sensor, dan hanya akan mengaktifkan pixel yang berada di dalam cakupan lingkar cahaya lensa Sony SAL DT tersebut, yaitu seukuran area sensor APS-C. Kapasitas resolusi total di modus "APS-C Capture" jadi berkurang karena adanya pixel yang tidak diaktifkan tersebut. Contohnya adalah Sony DSLR-A900 dengan kapasitas resolusi asli 24.4 megapixel. Ketika berada di modus "APS-C Capture", resolusi maksimal menjadi 11 megapixel saja. Jadi Anda dapat memilih antara dua modus: tetap dengan resolusi 24.4 megapixel namun mengalami vigneting, atau rela dengan resolusi 11 megapixel namun bersih dari vigneting. Jendela bidik optik pada kamera bersensor Full Frame tersebut telah menyediakan tanda pembatas bidikan agar reduksi cakupan ruang pandang ini tidak membuat fotografer salah melakukan komposisi pemotretan.
Walaupun lensa Sony SAL DT dapat saling dipertukarkan penggunaannya dengan lensa Sony SAL non-DT, namun hasil fotonya akan menjadi tidak optimal. Bila Anda memiliki kamera Sony Alpha dengan sensor Full Frame 36 x 24 mm semisal Sony DSLR-A900, sudah seyogianya Anda mempergunakan lensa-lensa dengan spesifikasi optik yang sesuai untuknya, agar Anda dapat sepenuhnya menikmati kemampuan paling optimal dari kamera tersebut.
Lensa Sony SAL DT dipastikan merupakan lensa dengan arsitektur optik generasi terbaru. Oleh sebab itu, semua spesifikasi dan karakter optiknya sudah dioptimalkan untuk penggunaan bersama Sony Alpha generasi terbaru dengan sensor APS-C. Nikmatilah fotografi sudut lebar dengan performa optik yang paling optimal dari Sony SAL DT, dengan harga jual yang paling kompetitif di kelasnya.