You are here: Home Digging Deep Technology Quick AF Live View

Quick AF Live View System

Live View didefinisikan sebagai sebuah fasilitas dimana seorang pengguna kamera digital dapat melakukan pembidikan melalui sarana yang bersifat transmisif atau elektronis. Di jaman awal kelahiran teknologi kamera digital, fasilitas Live View merupakan fasilitas pembidik utama dari kamera berjenis non-DSLR (pocket), dengan jendela bidik optik sebagai fasilitas tambahan yang terkadang ada dan terkadang tidak ada. Kalaupun tersedia jendela bidik optik, biasanya baru dipergunakan untuk menghemat konsumsi baterai kamera tersebut.

Sedangkan pada DSLR dimana konstruksi fisiknya masih menggunakan arsitektur SLR dari jaman film seluloid, fasilitas Live View menjadi tidak dimungkinkan untuk hadir. Jendela bidik optik merupakan satu-satunya sarana pembidik, dengan layar LCD yang hanya berfungsi untuk melihat hasil akhir foto. Dalam perkembangannya, beberapa merek berhasil menciptakan fasilitas Live View. Sayang, implementasinya tidak sepenuhnya sempurna karena adanya keterbatasan inheren pada arsitektur fisik kamera.

Ada dua jalan untuk dapat menerapkan sistem Live View pada DSLR. Cara pertama adalah dengan sensor tunggal, dan cara kedua adalah dengan sensor ganda. Idealnya, Live View pada DSLR dijalankan dengan bantuan sensor tambahan (sensor ganda), sehingga tugas sensor utama untuk mengambil gambar tidak dibebani dengan tugas tambahan untuk menampilkan tayangan Live View. Namun kendalanya, Live View dengan sensor ganda sulit diterapkan karena membutuhkan arsitektur mekanik dan elektronik yang jauh lebih rumit dibandingkan dengan Live View sistem sensor tunggal.

Akhirnya nyaris semua merek DSLR yang bersaing ketat di pasar menerapkan Live View sistem sensor tunggal, dengan menggunakan satu sensor utama yang juga berfungsi untuk mengambil gambar. Ada 3 keuntungan menggunakan sistem sensor tunggal untuk fasilitas Live View: [1] Komposisi yang presisi karena sensor utama yang juga berfungsi untuk mengambil gambar, [2] Simulasi parameter fotografi (terutama pengontrolan ruang tajam) menjadi lebih mudah untuk dimonitor, dan [3] Arsitektur mekanika & elektronik dapat dibuat lebih sederhana tanpa keharusan untuk memasang komponen tambahan.

Dalam perjalanannya, ternyata lebih banyak kerugian dibalik penerapan Live View sistem sensor tunggal tersebut. Kerugian pertama adalah sensor utama yang akan menjadi panas selama Live View digunakan. Kita semua tahu benar bahwa sensor utama tidak boleh menjadi panas, karena panas akan memicu noise muncul di hasil foto. Live View sensor tunggal ini tidak dapat digunakan dalam jangka waktu pemakaian yang lama, dan tidak dianjurkan untuk digunakan bersamaan dengan ISO tinggi. Jika dipaksa digunakan dalam jangka waktu lama, sang kamera akan secara otomatis me-non-aktifkan fasilitas ini, untuk memberikan kesempatan sensor utama "beristirahat" dan menjadi dingin terlebih dahulu.

Kerugian kedua dari Live View sensor tunggal adalah sistem autofokus yang tidak dapat dibuat segesit sistem autofokus DSLR. DSLR menganut sistem autofokus deteksi fasa, dimana ada sensor autofokus terdedikasi yang biasanya diletakkan di bawah cermin pantul. Ini memungkinkan sistem autofokus dapat berjalan dengan cepat dan gesit. Anda dapat sepenuhnya memonitor proses dan hasil autofokus tersebut secara real-time.

Ketika Live View sistem sensor tunggal bekerja lewat sensor utama, maka cermin pantul harus naik untuk memberikan jalan kepada cahaya dari lensa, untuk langsung memasuki sensor utama. Selama cermin pantul naik, jendela bidik optik praktis tidak dapat digunakan karena menjadi gelap (terhalang cermin pantul yang sedang naik), dan autofokus menjadi tidak dimungkinkan karena sensor autofokus deteksi fasa tidak dapat mendeteksi subjek akibat cermin pantul yang sedang naik tersebut.

Pada DSLR kompetitor generasi pertama, fasilitas Live View sensor tunggal ini bahkan tidak dilengkapi fasilitas autofokus sama sekali. Perkembangan berikutnya, autofokus deteksi fasa dimungkinkan, dengan menurunkan cermin pantul dan membiarkan sistem autofokus deteksi fasa bekerja terlebih dahulu. Setelah fokus tercapai, cermin pantul akan naik kembali agar Live View bekerja. Proses ini sangat tidak praktis, karena membutuhkan waktu bagi cermin pantul untuk bolak-balik naik-turun. Sistem ini menghasilkan suara pergerakan mekanik yang sangat mengganggu, sehingga fotografer akan kebingungan apakah suara tersebut merupakan suara proses pengambilan gambar, atau suara proses naik-turun cermin untuk memberi kesempatan sistem Live View bekerja. Di lini akhirnya, Anda tidak mungkin menggunakan kamera semacam ini untuk memfokus benda bergerak.

Perkembangan berikutnya, para kompetitor menanamkan kemampuan autofokus deteksi kontras secara langsung di modul sensor utama tersebut, sehingga proses penajaman gambar dapat langsung dilihat di layar LCD kamera tersebut. Tidak lagi diperlukan proses naik-turun cermin pantul, karena adanya sistem autofokus deteksi kontras yang bekerja mirip dengan sistem autofokus kamera saku. Sistem autofokus deteksi kontras pada Live View sensor tunggal semacam ini terkenal menampilkan kinerja sangat lambat dan akurasi yang tidak terlalu tinggi. Oleh karenanya, ia hanya cocok digunakan bagi subjek-subjek statis dan - jika perlu - menggunakan tripod. Satu-satunya kelebihan sistem autofokus deteksi kontras pada Live View sensor tunggal hanyalah meniadakan proses naik-turun cermin pantulnya; namun pada akhirnya ia tetap mempertahankan sifat asli sistem autofokusnya yang lambat. Perkembangan berikutnya adalah berusaha "menutupi' kekurangan inheren tersebut dengan menambahkan fasilitas Face Detection atau Smile Detection. Ini tidak serta-merta membuat sistem autofokus deteksi kontras pada Live View sensor tunggal ini bekerja lebih cepat. Ini semua hanya bersifat kosmetis belaka.

Akhirnya pada awal tahun 2008, Sony menggebrak pasar fotografi dunia lewat Sony DSLR-A300 dan Sony DSLR-A350. Untuk pertama kalinya di dunia, semua kelebihan dari sistem Live View sensor tunggal maupun sensor ganda dapat berpadu dalam satu produk. Sistem Live View pada kedua kamera ini dibangun dengan sensor ganda. Namun yang membedakannya dengan kompetitor adalah Sony membangun sistem Live View sensor ganda ini dengan arsitektur mekanika yang sangat sederhana. Prinsipnya, Sony hanya menaruh sensor kedua untuk Live View tersebut sejajar dengan eyepiece jendela bidik optik. Ketika Live View diaktifkan, cukup dengan menggeser saklar mekanik ke posisi "LV", maka seketika itu juga salah satu bagian pentamirror sedikit bergeser, sehingga pantulan cahaya dari cermin pantul "berpindah jalur" menuju ke sensor Live View. Sangat sederhana dan cerdik.

quickaflvwhilework.jpg

Dengan demikian, Anda dapat sepenuhnya memanfaatkan fasilitas Live View tersebut sepanjang hari selama Anda mau. Satu keuntungan terbesar dari Quick AF Live View System dari Sony ini adalah tetap dipertahankannya metode autofokus deteksi fasa, namun tanpa menaik-turunkan cermin pantul seperti apa yang dilakukan oleh para kompetitor. Dengan demikian, kinerja autofokus di modus Live View tetap secepat ketika Anda menggunakan jendela bidik optik biasa. Oleh karenanya, Sony DSLR yang dilengkapi dengan fasilitas ini dapat melakukan penajaman fokus di subjek-subjek bergerak cepat sekalipun. Selain itu, sensor utama tidak terganggu oleh panas karena Live View dilakukan oleh sensor terpisah. Dengan demikian, Anda dapat mengkombinasikan fasilitas Quick AF Live View ini dengan ISO tinggi tanpa kuatir sedikitpun. Yang terakhir, Anda tetap dapat sepenuhnya memonitor tampilan simulasi perubahan parameter pemotretan.

Dengan Quick AF Live View, Sony bukan menjadi pelopor, tetapi menjadi yang terbaik dan terdepan di pasar fotografi. Pada akhirnya, fasilitas Live View sudah menjadi bagian yang sangat penting dalam hal kenyamanan memotret sehari-hari dengan DSLR. Dari sejak kemunculannya, semua Sony DSLR yang dilengkapi dengan Quick AF Live View dilengkapi dengan pergerakan layar LCD yang fleksibel untuk memudahkan pemotretan high angle atau low angle.