Ringkasan Sejarah
November 1928
Kazuo Tashima mendirikan “Nichi-Doku Shashinki Shoten” yang artinya "Japanese-German Camera Vendor (/ Shop)"; yang merupakan cikal-bakal Minolta Co., Ltd.
1931
Nama “Nichi-Doku Shashinki Shoten” disingkat menjadi Minolta, yang merupakan kependekan dari Mechanism, INstruments, Optics and Lenses by TAshima. Saat itu nama Minolta digunakan sebatas untuk merek dagang produk saja, belum menjadi label korporasi.
1962
Terpilihnya Minolta Hi-Matic dengan model Ansco Autoset, untuk turut serta dalam program luar angkasa "Friendship 7" ke planet Merkurius bersama Alan Shepard dan John Glenn. Di tahun yang sama, Minolta merubah nama korporasinya, dari Nichi-Doku Shashinki Shoten menjadi Minolta Camera Co., Ltd.
1972
Minolta menandatangani perjanjian kerjasama mutualisme dengan Leica dalam hal pengembangan kamera berjenis SLR.
1973
Tercatat sebagai saat pertama kalinya Minolta menghasilkan wujud nyata dari kerjasama mutualisme dengan pihak Leica. Minolta meluncurkan Leitz Minolta CL yang sangat bersejarah. Selain itu, Minolta juga MEMPRODUKSI Leica R3, R4 dan R5. Setelahnya, barulah semua produk Leica diproduksi oleh Leica sendiri di Jerman. Dalam sejarah fotografi, Leica R3, R4 dan R5 tercatat sebagai kamera SLR yang sangat tangguh dan selalu bebas masalah.
1981
Minolta XD-11 (Model E) merupakan kamera Minolta pertama di tahun 1981 yang mengalami perubahan tampilan logo Minolta, menjadi huruf kapital semua. Logo inilah yang seterusnya dipergunakan, hingga akhirnya Minolta di-merger oleh Konica pada tahun 2003.
1985
Diperkenalkannya Minolta 7000 sebagai kamera SLR autofokus terintegrasi pertama di dunia. Minolta 7000 langsung menyabet tiga penghargaan kelas dunia. Di tahun yang sama, meluncur juga Minolta 9000, yang merupakan kamera SLR autofokus pertama dan satu-satunya yang pergerakan film-nya dapat dikokang tanpa bantuan motor drive. Walaupun demikian, Minolta 9000 juga dilengkapi dengan aksesori motor drive tambahan, yang dapat membidik secepat 5 foto per detik.
1987
Honeywell tercatat sebagai pihak yang mendeteksi adanya persinggungan antara arsitektur teknologi autofokus Minolta, dengan arsitektur teknologi autofokus kamera SLR yang sebelumnya telah dipatenkan oleh Honeywell. Akhirnya, Honeywell secara resmi melayangkan gugatan atas Minolta ke pengadilan di Amerika Serikat.
1991
Pada tahun 1991, pengadilan di Amerika Serikat memutuskan untuk memenangkan gugatan Honeywell atas Minolta. Teknologi autofokus Minolta terbukti secara sah dan meyakinkan, telah bersinggungan dengan hak paten Honeywell. Akhirnya Minolta harus menelan pil pahit untuk membayar semua kerugian, penalti, biaya pengadilan dan biaya lain-lainnya kepada Honeywell, sebesar 127.6 juta US Dollar (Sumber: NY Times).
1992
Pada tahun 1992, Minolta telah menyelesaikan seluruh kewajiban kepada Honeywell. Keduabelah pihak kemudian mengadakan persetujuan untuk mengakhiri kasus ini hingga sampai di sini.
1994
Di tahun 1994, terjadi pergantian nama perusahaan menjadi Minolta Co., Ltd., karena terjadi perluasan atau diversifikasi produk. Mulai tahun 1994, Minolta Co., Ltd. tidak hanya memproduksi kamera saja.
1995
Tahun 1995 juga merupakan tahun yang sangat bersejarah bagi Minolta, karena pada tahun ini, Minolta telah meluncurkan Minolta RD-175, yang merupakan kamera SLR digital pertama di dunia beresolusi 1.75 megapixel, dengan konsep yang utuh, terpadu dan praktis. Memang benar, Kodak DCS dan Sony Mavica merupakan konsep kamera digital pertama di dunia yang "dapat dipergunakan untuk memotret". Namun konsep kamera SLR digital yang utuh, terpadu dan praktis, pertama kalinya ditawarkan oleh Minolta RD-175. Basis bodi RD-175-lah yang pada akhirnya menjadi basis bodi kamera APS Minolta, dimana Minolta juga tercatat sebagai produsen pertama di dunia yang meluncurkan kamera SLR berjenis APS. Walaupun tidak dikategorikan sebagai kamera digital berkonsep SLR yang sukses di pasaran, namun Minolta telah memicu semangat para kompetitor untuk mempercepat riset dan produksi kamera digital dengan basis SLR.
2002
Terakhir kalinya Minolta memproduksi kamera analog dari berbagai jenis.
07 Januari 2003
Minolta di-merger oleh Konica menjadi KonicaMinolta. Di akhir tahun yang sama, kamera digital dengan label merek Minolta terakhir diproduksi, lewat Minolta DiMAGE G-400.
Februari 2004
Pertama kalinya KonicaMinolta memproduksi kamera digital di bawah label merek KonicaMinolta. KonicaMinolta DiMAGE A-2 untuk pemotret amatir-serius, KonicaMinolta DiMAGE Z-2 untuk kalangan pecinta rentang zoom tele yang panjang, dan KonicaMinolta DiMAGE Xg untuk peminat kamera saku.
Agustus 2005
KonicaMinolta Dimage Z-6 adalah kamera digital terakhir yang diproduksi di bawah nama nama KonicaMinolta, sementara proses negosiasi dan akuisisi divisi fotografi KonicaMinolta oleh Sony sedang berlangsung.
19 Januari 2006
KonicaMinolta menyatakan secara resmi untuk mundur dari bisnis kamera digital.
31 Maret 2006
Sony secara resmi mengambil-alih seluruh infrastruktur divisi fotografi digital dari KonicaMinolta (Konica Minolta Photo Image, Inc.), dari mulai infrastruktur fisik hingga sumber daya manusianya. Satu-satunya infrastruktur yang tidak diambil oleh Sony adalah infrastruktur pemasaran. Selain karena sudah memiliki infrastruktur promosi dan pemasaran yang terbukti jauh lebih baik, Sony pun memandang infrastruktur pemasaran Minolta dan KonicaMinolta sebagai penyebab utama kejatuhan bisnis KonicaMinolta di divisi fotografi digitalnya.
06 Juni 2006
Sony meluncurkan produk pertamanya, yaitu Sony DSLR-A100. Produk ini merupakan "fotokopi" dari KonicaMinolta Dynax 5D, dengan kapasitas resolusi yang ditingkatkan hingga 10 megapixel, dengan berbagai peningkatan minor di sisi fasilitas. Ini dilakukan tentu saja untuk mengejar "tenggat waktu" untuk mengisi kekosongan pasar, demi memelihara loyalitas dan harapan dari para pengguna DSLR Minolta maupun KonicaMinolta yang sebelumnya telah ada.
30 September 2006
KonicaMinolta secara resmi menyatakan mundur total dari bisnis fotografi digital, dengan pengurangan sekitar 3.700 orang pegawai di divisi yang bersangkutan. Dengan demikian, berakhirlah 78 tahun sejarah Minolta, yang sempat sejenak disambung oleh KonicaMinolta.
Maret 2007
KonicaMinolta menyatakan secara resmi penutupan total dan permanen divisi fotografi digital KonicaMinolta. KonicaMinolta hanya akan berkonsentrasi di bisnis alat-alat kesehatan, perkantoran dan penginderaan.
Beberapa catatan menarik seputar Minolta - KonicaMinolta - Sony Alpha
Konica merupakan perusahaan fotografi tertua di dunia. Sejarahnya diawali dari sebuah toko yang menjual obat bernama Konishi-ya Rokubei Ten yang dioperasikan oleh Sugiura Rokuemon V. Anaknya, yaitu Sugiura Rokusaburo, memperluas jenis usahanya menjadi penjual material fotografi pada tahun 1873. Singkat kata, pada tahun 1903, meluncurlah "Cherry", yaitu kamera buatan Jepang pertama yang "memiliki merek dagang secara jelas".
Singkat kata, pada 1943 nama perusahaannya menjadi Konishiroku Shashin Kogyo K.K., dengan nama internasional Konishiroku Photo Industry Co., Ltd. Nama "Konica" pertama kalinya "menempel" di kamera 35mm berjenis rangefinder pada tahun 1947. Kurang-lebih mirip dengan "Leica" atau "Yashica", nama "Konica" merupakan singkatan dari nama perusahaan, ditambahi dengan akhiran "ca" yang berarti "camera".
Pada 1987, mereka merubah nama korporasinya menjadi Konica Corporation.
Pertama kalinya sejak kelahirannya di tahun 1928, Minolta "ditakdirkan" sebagai produsen kamera medium format yang kemudian berubah menjadi produsen kamera standar 35mm dari berbagai jenis, dari mulai SLR maupun Non-SLR.
Minolta terakhir membuat kamera medium format 6x6 adalah tahun 1965, lewat Minolta AutoCord CdS (Twin Lens Reflex). Kamera AF SLR 35mm terakhir dari Minolta adalah pada tahun 2002 lewat Dynax 60. Kamera digital terakhir dari KonicaMinolta adalah pada tahun 2005 lewat KonicaMinolta DiMAGE Z-6.
Minolta selalu berpegang pada pakem generasi ketika meluncurkan sebuah produk. Total ada 6 generasi AF SLR 35mm di keluarga Minolta.
Kode generasi 1: 4 angka tanpa huruf
Kode generasi 2: 4 angka dengan huruf "i" (Intelligent)
Kode generasi 3: 1 angka dengan huruf "xi" (Expert Intelligence)
Kode generasi 4: 3 angka dengan huruf "si" (Sophisticated Intelligence)
Kode generasi 5: 1 angka tanpa huruf
Kode generasi 6: 2 angka tanpa huruf
Minolta selalu mengeluarkan kamera AF SLR 35mm seri profesional di generasi ganjil, dan selalu sukses dengan urutan produk yang mengandung kode "7" terlebih dahulu, barulah setelahnya kode produk yang mengandung angka "9". Contohnya di generasi satu, Minolta 7000 dahulu, baru setelahnya Minolta 9000. Di generasi tiga, Minolta Dynax 7xi terlebih dahulu, barulah setelahnya Minolta Dynax 9xi. Urutan ini menjadi terbalik di generasi lima dengan Dynax 9 meluncur terlebih dahulu di tahun 1998, lalu kemudian Dynax 7 di tahun 2000. "Pelanggaran tradisi" ini dilakukan karena tahun 1998 merupakan ulang tahun Minolta ke-70; dan oleh karenanya harus secara simbolik meluncurkan kamera seri profesional atau seri terbatas terlebih dahulu.
Di generasi genap, seri tertinggi pastilah mengandung unsur angka "8". Pada generasi dua, seri tertinggi adalah Minolta Dynax 8000i, dan seri tertinggi generasi empat adalah 800si. Generasi enam tercatat sebagai generasi yang ditandai dengan melemahnya semangat dan filosofi Minolta karena adanya wacana untuk melakukan merger perusahaan dengan Konica. Dengan demikian, setelah kelesuan inovasi dan produksi di generasi enam, Minolta menghentikan produksi kamera AF SLR 35mm di generasi enam pada tahun 2002 lewat Minolta Dynax 60.
Minolta merupakan produsen peralatan fotografi pertama, satu-satunya, dan hingga tahun 2009 masih menjadi satu-satunya merek (dibawah bendera Sony), yang sanggup memproduksi lensa Reflex yang dilengkapi dengan teknologi autofokus, yaitu Sony SAL 500mm f/8 Reflex. Kita semua tahu benar bahwa hingga saat ini, Sony Alpha merupakan satu-satunya merek DSLR yang sanggup melakukan proses autofokus dengan lensa seredup f/8.
Minolta merupakan produsen peralatan fotografi pertama di era 1990-an yang memproduksi lensa AF Macro Zoom, yaitu Minolta AF Macro Zoom 3x - 1x f/1.7-2.8. Sayangnya, lensa ini tidak lagi diproduksi dibawah merek Sony, dan baru dapat ditandingi oleh Canon dengan Canon MP-E 65mm f/2.8 setelah tahun 2000-an. Bedanya, Minolta melengkapi lensanya dengan kemampuan autofokus, sedangkan Canon hanya fokus secara manual.
Minolta bukanlah produsen yang memiliki predikat "World's First" terbanyak di masa-masa awal kemunculannya hingga era SLR analog berakhir. Minolta menjadi produsen yang memiliki predikat "World's First" yang signifikan setelah memasuki era SLR autofokus.
Dari era Minolta hingga era Sony Alpha, masih menjadi merek yang paling piawai dalam merancang arsitektur jendela bidik (viewfinder) dan tabir bidik (focusing screen) dengan kecerahan, kejernihan dan ketajaman terbaik di dunia, dan selalu melebihi kompetitornya. Premis ini diakui oleh semua fotografer dan kalangan media di seluruh dunia. Selain itu, Minolta juga terkenal piawai dan terdepan dalam hal akurasi sistem pengukuran cahaya. Ini tidaklah mengherankan karena Minolta merupakan produsen perangkat pengukuran cahaya dari berbagai jenis, dengan tingkat akurasi terbaik di dunia. Dari mulai Exposure Meter, Flash Meter hingga Color Meter; kinerja dan akurasinya mendapat pengakuan dari fotografer profesional di berbagai penjuru dunia.
Minolta merupakan satu-satunya merek Jepang yang pernah bekerjasama secara intensif dengan produsen peralatan fotografi terkemuka asal Jerman. Minolta pernah menjalin kerjasama dengan Leica dalam hal pengembangan kamera SLR dan kamera leaf shutter, sistem optik, sistem pengukuran cahaya, sistem prisma jendela bidik, dan sistem tabir bidik (focusing screen). Cukup banyak produk Leica yang didukung oleh Minolta dalam aspek pengukuran cahaya, prisma jendela bidik dan tabir bidik-nya.
Sedangkan Minolta menjalin kerjasama dengan Hasselblad dalam hal pengembangan sistem pengukuran cahaya, sistem prisma jendela bidik, dan sistem tabir bidik (focusing screen). Belum ada data terbaru apakah kerjasama dengan Leica dan Hasselblad ini masih dilanjutkan di bawah merek Sony.
Dari sejak kelahirannya, Minolta merupakan produsen peralatan fotografi yang paling sering didatangi oleh kontroversi. Selain kasus Honeywell, Minolta juga tercatat sebagai produsen yang paling banyak mengalami transisi korporasi. Urutan kedua setelah Minolta adalah Pentax, yang diakuisisi oleh THK Corporation.
Sony merupakan merek yang memiliki dukungan korporasi terbanyak dari merek optik yang terkemuka. Pertama adalah infrastruktur Minolta (dimiliki sepenuhnya). Kedua adalah Tamron (kepemilikan saham mayoritas). Ketiga, Carl Zeiss (yang merupakan mitra strategis terkuat).