You are here: Home Digging Deep Articles [17-01-2012] Jangan Kirim Peralatan Fotografi Sembarangan

Jangan Mengirim Peralatan Fotografi Sembarangan

Tahun baru ini kami dikejutkan dengan sebuah foto yang masuk ke Inbox E-mail kami, dari salah seorang kawan kami. Foto tersebut menggambarkan lensa Sony SAL 70-200mm f/2.8 G SSM yang fisiknya patah menjadi dua bagian. Kontan saja kami bertanya, mengapa sampai bisa terjadi seperti itu.

Ia bercerita bahwa pada suatu ketika, ia diundang untuk menjadi pembicara seminar di sebuah kota. Kebetulan di kota tersebut ada kawan dekatnya. Selesai menjadi pembicara seminar di kota tersebut, kawannya tersebut bermaksud meminjam lensa itu untuk beberapa hari. Karena kawan kami harus segera pulang ke Jakarta, maka lensa tersebut diserahkan kepada kawannya kawan kami tersebut, dimana ia berjanji akan mengembalikannya dalam waktu kurang dari seminggu.

Akhirnya kawan kami pulang kembali ke Jakarta. Selang beberapa hari kemudian, paket kiriman lensa yang dipinjam kawannya sudah tiba di rumahnya. Dikarenakan ia berpikir tidak ada apa-apa dengan lensa itu, kawan kami pun tidak membuka dusnya selama beberapa hari setelah kedatangan paket lensa itu. Kawan kami memang termasuk orang yang sangat sibuk di pekerjaannya. Pulang larut malam sudah menjadi makanan sehari-harinya. Selang belasan hari kemudian, kawan kami baru bisa membuka dus tersebut. Sekonyong-konyong terkejutlah ia, karena mendapati lensa kesayangannya sudah belah dua. Dia langsung mengajukan keluhan kepada pihak ekspedisi yang mengirimkan lensa tersebut. Namun sayang seribu sayang, pihak ekspedisi tidak dapat mengabulkan pengajuan penggantian asuransi karena keluhan baru diajukan lebih dari seminggu setelah paket kiriman tiba di tempat tujuan. Kawan kami pun pulang dengan gigit jari.

lensagputihpatah
Kawan kami kemudian bertanya pada kawannya yang mengirimkan lensa tersebut. Kawannya kawan kami bercerita, bahwa ia sudah memaketkan lensa tersebut dengan skema pengiriman yang paling mahal, dengan asuransi dan peti kayu. Setelah kawan kami berdiskusi dengan kami, kami berpendapat bahwa masalah utamanya adalah justru di peti kayu yang dikenakan atas paket lensa tersebut. Memang benar, maksudnya peti kayu tersebut adalah untuk melindungi fisik paket. Namun kami berpikir bahwa dengan mental para pekerja Indonesia yang kebanyakan hanya memikirkan gaji setiap akhir bulan saja tanpa mau bekerja dengan baik dan sepenuh hati, akibatnya justru sebaliknya. Bisa jadi pihak karyawan ekspedisi melihat paket tersebut telah terlindungi dengan peti kayu, malah menjadi pembenaran bagi mereka untuk memperlakukan paket tersebut dengan kasar. Jika lensa kelas G yang jelas-jelas material fisiknya terbuat dari logam dan material gelasnya terbuat dari mineral alami yang solid bisa belah dua, sudah pasti perlakuan pihak ekspedisi terhadap barang tersebut adalah sangat kasar dan sembarangan. Ini mengingat pemaketan lensa ini yang sudah dilakukan dengan serabut-serabut kertas, sehingga lensa ini bisa lebih tahan terhadap guncangan fisik. Namun ternyata masih bisa belah juga.

Setelah kami selidiki lebih jauh, ternyata kawannya kawan kami tidak mengatakan yang sebenarnya pada pihak ekspedisi bahwa paket tersebut adalah berisi peralatan optik atau fotografi. Dia tidak mengatakannya karena kuatir akan terjadi apa-apa di pengirimannya, karena peralatan optik atau fotografi dipandang sebagai barang mewah yang rentan terhadap pencurian selama perjalanan paketnya. Kawannya kawan kami mengatakan pada pihak ekspedisi bahwa paket tersebut berisi buku. Bisa jadi, ini pangkal masalah yang menimbulkan masalah lainnya, yaitu perlakuan kasar terhadap paket.

Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari kejadian ini. Pertama, jika ingin berkirim peralatan fotografi lewat jasa ekspedisi, jujurlah pada pihak ekspedisi perihal barang yang dipaketkan. Kedua, tekankan pada pihak ekspedisi agar paket tersebut jangan dibanting, dibalik-balik, atau diperlakukan dengan kasar. Ketiga, tanyakanlah dengan mendetail seputar aturan main asuransi beserta metode klaimnya. Terakhir, catatlah dengan detail nama petugas ekspedisi yang saat itu melayani Anda, beserta lokasi kantor cabang dan jam dimana percakapan itu terjadi.

Pasti kawan-kawan bertanya, mengapa kami tidak menulis poin dimana kita harus memilih perusahaan ekspedisi yang terkenal bona fide. Kami tidak membahas itu, karena toh nama besar perusahaan ekspedisi tidak bisa benar-benar 100% kita jadikan jaminan bahwa paket kita akan selamat tanpa cacat-cela. Dikarenakan masih banyaknya faktor human error dalam bisnis logistik, maka bisa disimpulkan bahwa perusahaan besar yang terkenal bona fide pun bisa melakukan kesalahan semacam ini.

Selamat berkirim barang.